Friday, December 12, 2025

Pengembangan Karakter ala Ki Hajar Dewantara di MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah

Pendidikan Madrasah 

Penguatan karakter menjadi salah satu fokus utama pendidikan modern, terutama di lembaga pendidikan berbasis nilai keagamaan seperti MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah. Sebagai madrasah yang menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an, disiplin, dan akhlak mulia, model pengembangan karakter Ki Hajar Dewantara sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan belajar mengajar.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia: merdeka berpikir, merdeka berperilaku baik, dan merdeka bertanggung jawab. Madrasah dapat mengambil nilai-nilai luhur tersebut untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga berkarakter kuat, mandiri, dan berbudaya. 

1. Ing Ngarso Sung Tulodho: Guru Sebagai Teladan Utama
    Di MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah, guru memiliki peran sentral sebagai figur panutan. Prinsip Ing       
    Ngarso Sung Tulodho mengharuskan pendidik memberikan contoh nyata melalui:
    -  Kedisiplinan waktu, terutama dalam budaya mengaji pagi dan shalat berjamaah.
    -  Keteladanan akhlak, seperti berbicara sopan, jujur, dan tidak membentak siswa.
    -  Kerja keras, terlihat dari kesungguhan guru menyiapkan pembelajaran dan membimbing siswa tahfidz
    Keteladanan ini membuat siswa lebih mudah meniru perilaku positif karena mereka melihat langsung 
    implementasinya setiap hari di madrasah. 

2. Ing Madya Mangun Karsa: Membangun Semangat di Tengah Peserta Didik
    Prinsip ini mengajak guru untuk hadir di tengah kegiatan siswa sebagai penggugah semangat. Di MTs 
    Tahfidzul Quran Ar-Risalah, implementasinya tampak dalam:
    -  Pendampingan ketika siswa menghafal Al-Qur’an, memotivasi ketika mereka mengalami kesulitan.
    -  Pembelajaran aktif dan joyful, di mana guru ikut terlibat dalam diskusi kelompok, praktik bahasa 
       Inggris, hingga kegiatan proyek.
    -  Kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, seni, dan English Club memperkuat karakter kerja sama 
       dan percaya diri.  
    Dengan berada “di tengah”, guru menjadi sahabat belajar, bukan hanya pemberi instruksi. 

3. Tut Wuri Handayani: Memberi Ruang untuk Kemandirian
    Madrasah memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri secara mandiri.   
    Prinsip Tut Wuri Handayani terlihat dari:
    -  Pembiasaan tanggung jawab pribadi, seperti menjaga kebersihan kelas dan kerapian diri.
    -  Kemandirian ibadah, termasuk disiplin shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, serta doa harian.
    -  Pemberian kepercayaan dalam kegiatan organisasi, seperti OSIM atau kepanitiaan acara madrasah.
    -  Penilaian berbasis proyek, yang memberi ruang kreativitas tanpa tekanan berlebihan.
    -  Guru memberikan dukungan dari belakang, membiarkan siswa berproses, namun tetap mengarahkan 
        agar mereka tidak kehilangan tujuan. 

4. Sinergi Nilai Ki Hajar Dewantara dan Nilai Keislaman
    Keistimewaan MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah adalah integrasi antara filosofi pendidikan nasional 
    dan nilai-nilai Qur’ani.
    Beberapa karakter yang terbentuk antara lain:
    -  Religius, melalui tahfidz dan pembiasaan ibadah.
    -  Berintegritas, melalui budaya jujur dalam pembelajaran dan evaluasi.
    -  Tanggung jawab, melalui tugas kelas dan amanah organisasi.
    -  Gotong royong, melalui kegiatan kebersihan, pramuka, dan proyek kelompok.
    -  Beradab, sesuai akhlak karimah yang ditanamkan setiap hari.
    Kolaborasi nilai ini menjadikan peserta didik tumbuh sebagai generasi yang berilmu, berakhlak, dan 
    siap menghadapi tantangan masa depan.

5. Peran Lingkungan Madrasah sebagai “Taman Siswa” Modern
    Ki Hajar Dewantara menyebut sekolah sebagai Taman Siswa, tempat tumbuhnya karakter seperti 
    tanaman tumbuh di kebun yang subur. MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah telah menjadi lingkungan yang 
    kondusif melalui:
    -  Budaya salam, senyum, dan sapa.
    -  Lingkungan fisik yang bersih dan Islami.
    -  Hubungan guru-siswa yang hangat namun tetap berwibawa.
    -  Kegiatan rutin seperti murojaah, kajian, dan kultum.
    -  Program pengembangan diri dan ekstrakurikuler yang terarah.
    -  Lingkungan inilah yang memperkuat proses pembiasaan positif setiap hari. 

Kesimpulan:
Penerapan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara di MTs Tahfidzul Quran Ar-Risalah bukan hanya sebatas teori, namun sudah terwujud dalam keteladanan guru, pembelajaran aktif, serta pembiasaan karakter Islami. Sinergi ini menghasilkan siswa yang:
Berakhlak mulia
Mandiri dan bertanggung jawab
Berwawasan kebangsaan
Cinta Al-Qur’an
Siap menjadi generasi pemimpin masa depan

Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat menumbuhkan karakter—sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara:
“Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

No comments:

Post a Comment

Raih Peluang Cuan dari Layanan Digital Terpercaya

Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, peluang untuk mendapatkan cuan semakin terbuka lebar. Jasaview.id hadir sebagai platform la...